Header Ads

Garuda Di Dadaku, Ringgit Di Dompetku


Lismawati

Perekonomian di Sebatik sangat di pengaruh oleh negara tetangga yaitu kota Tawau (Sabah, Malaysia) dan hampir semua kebutuhan pokok masyarakat perbatasan Sebatik di suplai dari negara jiran. Di Sebatik sendiri berlaku dua mata uang yaitu Rupiah dan Ringgit.

Biasanya orang tua kami atau warga Sebatik menjual hasil alam seperti kakao, kelapa sawit, pisang, ikan, dan rumput laut ke Tawau. Kemudian warga Sebatik membeli bahan yang sudah jadi dari negara tetangga. Kenapa warga Sebatik sampai menjual hasil alam ke Tawau Malaysia karena di Sebatik tidak ada wadah atau pengolah hasil alam tersebut. Warga Sebatik menjual hasil alam ke Tawau dengan harga yang murah, sedangkan masyarakat Sebatik membeli bahan-bahan dari Tawau Malaysia dengan harga yang cukup mahal. Kebutuhan pokok warga Sebatik sangat bergantung oleh negara malaysia.

Letak geografis yang berbatasan langsung dengan Tawau Malaysia mengakibatkan perekonomian warga Sebatik sangat di pengaruhi oleh negeri Jiran tersebut. Jadi tidak salah jika Sebatik saat ini dikatakan terjajah oleh mata uang. Meski begitu banyak pihak yang menganggap berlakunya 2 mata uang di Sebatik menjadi hal yang unik dan daya tarik pulau Sebatik.

Jika perekonomian di Sebatik dapat di kelolah dengan baik, maka Sebatik akan menjadi icon baru di wilayah Indonesia Timur khususnya pulau Kalimantan. Garuda di dadaku ringgit di dompetku, namun saya tetap bangga menjadi bagian dari Indonesia…… NKRI HARGA MATI.

Penulis : Lismawati (Mahasiswa Sebatik Di Yogyakarta)

1 comment:

  1. Maka dari itu...itu adalah tanggung jawab bsar kita sbgai mhasiswa yg msih kuliah di luar sbatik..

    ReplyDelete

Powered by Blogger.