Header Ads

PEDULI PERBATASAN, GBN UNDANG LANGSUNG SISWA BERPRETASI PULAU SEBATIK

GAMBAR : SUASANA SEMINAR KEPEMUDAAN
YOGYAKARTA - Komunitas Generasi Bakti Negeri (GBN) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) mengadakan seminar kepemudaan. Kegiatan ini bertemakan "Peran pemuda perbatasan dalam menjaga kedaulatan NKRI" dengan mengundang langsung seorang siswi berprestasi dari perbatasan Pulau Sebatik, Provinsi Kalimantan Utara sebagai pemateri, yakni Fatimah. Seminar ini dilaksanakan di ruang Simulasi Sidang ASEAN, UMY. Senin (6/3).

Ketua panitia seminar, Okta Marzantio dalam sambutannya mengungkapkan bahwa seminar ini adalah bentuk apresiasi kepada siswa berprestasi dari pulau perbatasan agar dapat menginspirasi berbagai kalangan di Yogyakarta.

"Seminar ini bertujuan untuk menginspirasi kita semua dan juga sebagai sumber informasi kami dalam mempersiapkan Saudara Sebatik Project 3,” ungkap Tio. Senin (6/3).

Fatimah merupakan siswi SMA Negeri 1 Sebatik Tengah, Kabupaten Nunukan, Provinsi Kalimantan Utara. Siswi kelas XII IPA tersebut memiliki segudang prestasi meskipun tinggal di wilayah 3T (Terdepan, Terluar, dan Tertinggal). Salah satu prestasi yang baru saja ia raih adalah lolos menjadi peserta pelatihan kepemimpinan pelajar paling bergengsi seluruh Indonesia yaitu Indonesia Student Unite (ISUNITE) yang telah diadakan di Jakarta dari tanggal 2 sampai 5 Maret 2017 lalu.

Fatimah yang juga juara kelas dan mantan ketua OSIS ini menyebutkan bahwa salah satu faktor keberhasilannya dalam meraih prestasi adalah berkat bimbingan dari mahasiswa UMY yang melakukan pengabdian di Pulau Sebatik sejak 2015.

"Saya sangat berterima kasih kepada kakak-kakak GBN karena telah banyak memberi pengetahuan baru kepada kami pemuda perbatasan, termasuk program ISUNITE kemarin," ungkapnya di sela-sela seminar. Senin (6/3).

Deni Febrian selaku ketua umum GBN mengungkapkan bahwa dengan hadirnya Fatimah yang notabene masih berstatus sebagai siswa SMA menjadi pemateri di UMY adalah bukti keberhasilan dan sustainability program-program yang diberikan GBN di Sebatik.

"Alhamdulillah program pengabdian masyarakat yang di lakukan GBN dengan roadmap 3 tahun program kerja (2015-2017) telah sedikit banyak berdampak kepada masyarakat, salah satunya Fatimah bisa hadir ke Jakarta dan Jogja,” tuturnya bersemangat. Senin (6/3).

Dalam sesi pemaparan materi, siswi yang bercita-cita kuliah di jurusan hubungan internasional ini, menjelaskan berbagai dinamika yang ada di Pulau Sebatik serta peran pemuda dalam menjaga nilai-nilai kebangsaan di tengah arus globalisasi serta komunitas ASEAN.

Ia mengungkapkan bahwa upgrade kapasitas dan kualitas pendidikan sangat di butuhkan di wilayah yang berbatasan langsung dengan negara Malaysia tersebut. Maka dari itu peran volunteer dari luar daerah dalam proses upgrading tersebut sangat penting.

"Banyak relawan yang hadir di Sebatik seperti Indonesia Mengajar, Sekolah Guru Indonesia (Dompet Dhuafa), Nusantara Sehat, GBN dan gerakan lainnya. Kehadiran mereka sangat signifikan dalam mendorong dan menginspirasi kami untuk terus berprestasi,” paparnya.

Tambahnya lagi, selain masalah pendidikan, narkoba juga menjadi momok yang menghantui pemuda Sebatik.

"Wilayah kami memang sangat rawan terhadap masalah narkoba. Faktor utama masalah tersebut adalah mudahnya akses masuk narkoba dari wilayah perbatasan yang minim pengawasan. Karena memang ada beberapa wilayah perbatasan yang tidak setiap hari di jaga,” ungkapnya sebelum sesi tanya jawab di seminar.

Ade Marup, salah satu dosen UMY mengapresiasi diadakannya seminar tersebut. "Sangat penting bagi lingkungan akademis mengahdirkan masyarakat dari wilayah 3T, apalagi siswa berprestasi untuk berbagi kepada kita (red-dosen dan mahasiswa)". Ade juga menambahkan bahwa sangat penting juga bagi Universitas, Pemerintah, dan masyarakat secara umum untuk mendukung gerakan mahasiswa yang mengabdi di wilayah-wilayah yang masih tertinggal, salah satunya sebatik. "Karena memang gerakan seperti GBN ini kongkrit dampaknya dan juga merupakan salah satu tri dharma pendidikan,” ungkapnya.

Seminar yang dihadiri oleh berbagai kalangan seperti mahasiswa, dosen, Himpunan Keluarga Mahasiswa Sebatik (HKMS) Yogyakarta dan pers tersebut di tutup dengan pemberian kenang-kenangan kepada pemateri.

"Semoga saya dan teman-teman dari daerah perbatasan juga bisa kuliah di Jogja suatu hari nanti,” tutup Fatimah. (Brama)

No comments

Powered by Blogger.